Pages

Sabtu, 31 Mei 2014

I Owe Him a Proper Goodbye !

Pan : Tink ! Where are you ?
Tink : workplace, pete ! kenapa ?
Pan : busy ?
Tink : Not really... Kenapa ??
Pan : Then what are you doing now ?
Tink : *sending pic

Tink : There.
Tink : having my snack while typing... kenapa ???
Pan : I'm gonna go to London tomorrow...
Tink : serius ?
Pan : yes ! and I still want you to come with me !
Tink : kamu mau aku datang ke India terus kita berangkat ke London bareng atau kamu mau kita ketemu di London ?
Pan : You still think it as a joke, don't you ?
Pan : Why is it so hard for you to come ?
Pan : You don't have to think about anything. just come !
Tink : Peter... How would I know that this is not a joke ?
Pan : After 7 years being your best friend, i still can't gain your trust ???
Tink : Pete...
Pan : No, Tink ! Don't start !
Tink : Start what ?
Pan : Aku tau apa yang akan kamu bilang...
Pan : "Selama ini kita hanya ngobrol di dunia maya..."
Pan : "Kita belum pernah bertemu secara langsung"
Pan : "Bagaimana aku bisa yakin kalau kamu tidak sedang bercanda...?"
Pan : Tell me I'm wrong !
Tink : Peter... You know I Like you...
Pan : And I Like you more than you ever think !
Tink : :)
Pan : You know what, Tink... Selama ini kita bicara tentang betapa kita berdua suka England... We both love the beatles. Enyd Blyton. Dan yang paling penting, London selalu muncul di dalam pikiran kita setiap kali kita mendengar nama "Peter Pan".
Pan : I think we agreed that someday we will come there together. Mengunjungi tempat - tempat yang luar biasa.
Pan : Those imaginary journey... Kita sudah melakukannya selama 7 tahun. Kamu tidak ingin mewujudkannya ?
Tink : I don't know... It's just... too good to be true.
Pan : Is it because I said I Love you...?
Tink : No, pete... It's not that...
Pan : Tink, you've been avoiding me since then...
Tink : No. Why would I...
Pan : Let's be honest here, Tink...
Pan : You want us to stop talking to each other ?
Tink : Big No !
Tink : I Like you, pete...
Tink : But... us as a couple sounds... weird.
Pan : I know that ! And I did not hope for that.
Pan : I'm not asking you to marry me...
Pan : But, at least... Please help me...
Pan : Tink... kamu hanya perlu muncul infront of my parents...
Pan : Aku mau mereka tau, you are real !
Pan : I keep talking about you for almost 7 years... Dan kamu tau cerita selanjutnya...
Tink : Dan kamu mau aku muncul di hadapan mereka, berbohong tentang komitmen yang tidak pernah ada di antara kita ?
Pan : Tink, please... I never tried to get a date for almost 5 years. And they think it was because I'm in an imaginary-relationship with you...
Pan : Mereka pikir aku menjalani hal yang tidak mungkin...
Tink : But we are indeed impossible...
Pan : Oke, you wanna talk about it now ?
Pan : Why are "us" impossible for you ?
Pan : You love me..
Pan : I love you...
Tink : Stop it, pete...
Tink : I told you...
Tink : You are not in love with me...
Tink : It's just an illusion...
Tink : And you know me...
Tink : I don't know what I want...
Tink : I don't want any boyfriend, and I am still not ready for marriage...
Pan : It's always that !
Pan : Alasan itu selalu muncul setiap kali kita membahas para lelakimu....
Pan : Aku tau "kita" tidak akan pernah mungkin. I know that very well. That's why i never put my expectation too high...
Pan : I'm not asking you to marry me. I just want you to come, and convince my parents. Setidaknya mereka tidak akan memaksaku untuk menikah dengan orang yang tidak aku inginkan.
Pan : I will find my true love myself then.
Tink : Pete... Bagaimana kamu tau kalau kamu tidak menginginkan gadis pilihan orang tuamu ?
Tink : Bagaimana kalau ternyata kamu suka dia setelah kalian berkenalan ?
Pan : I would love to introduce you as my friend then.
Pan : And you are my best friend, right ? Kita sudah berhubungan seperti ini selama 7 tahun...
Pan : We chat, We talk over phone, We saw each other on webcam... Sharing the same dream, talking about love and broken heart...
Pan : Siapa yang tau tentang cerita romance-mu selain aku ? Aku tau lebih dari siapapun, right ?
Pan : Dan kamu satu-satunya orang yang tau bahwa ibuku yang sekarang bukanlah ibu kandungku... Aku membiarkan orang - orang di sekitarku bertanya - tanya bagaimana mungkin aku bisa terlihat 100% europian sementara ibuku berkulit sawo matang dan 100% indonesian.
Tink : I don't know, pete...
Tink : I don't even know what i really want...
Tink : I don't know what I feel now either...
Tink : I think I don't have the courage to see you in London...
Tink : Or may be you are right...
Tink : It's better if we stop talking to each other...
Pan : You can't be serious tink !
Pan : Please tell me you are joking right now !
Tink : I'm not...
Tink : I don't know pete ! Ughhhh
Tink : I'm sorry...
Tink : you know how much i love you..
Pan : Stop !
Pan : apapun yang kamu ingin katakan sekarang, please stop !
Pan : I don't wanna hear anything from you anymore...
Pan : Apapun itu, it's gonna hurt me.
Pan : I guess this is the end you've always wanted...
Pan : Goodbye, Tink...
Tink : Pete wait...
*Pan is off

Waittt !!! This is not how it's supposed to end ! Apa yang baru saja aku lakukan ? To my 7 years best friend ?! I HAVE TO GO ! He deserves a proper goodbye !

Selasa, 24 September 2013

A Girl Who Can't Break Up, A Boy Who Can't Leave (Part 4)

Agha mungkin tidak serius dengan sms yang tadi sore dikirimnya itu... Mungkin juga laki – laki itu salah mengirim sms yang seharusnya ditujukan untuk orang lain... bagaimana mungkin lelaki yang baru saja mengajaknya berkencan melalui pesan singkat sekarang bertingkah seolah – olah tidak mengenalnya. Dia mengobrol dan tertawa dengan orang lain tanpa sekalipun menoleh padanya. Yaahh oke, Rhea memang tidak membalas pesan itu, tapi bukan berarti dia tidak mau... Dia ingin berbicara langsung dengan pria itu begitu sampai di kantor. Tapi saangnya dia dan mia tidak berkesempatan untuk menginjakkan kaki di kantor sepulang dari festival Barbie. Macet sudah pasti jadi alasan. Dan juga... malam ini semua orang pulang cepat untuk makan malam bersama di kafe yang katanya langganan indie. That woman... Rhea yakin, tadinya dia hanya ingin mengajak Agha makan malam bersama. Dan ntahlah bagaimana scenario yang terjadi hingga akhirnya dia membawa semua orang ke kafe ini. Bahkan Mia yang masih dalam perjalanan menuju kantor pun mendapat pesan untuk ikut bergabung, gadis itu akhirnya dia meminta driver untuk langsung mengantar mereka menuju TKP. Setelah hampir satu jam sejak Rhea datang ke kafe ini, tidak sekalipun Agha berusaha untuk menghampirinya, menoleh pun tidak. “Rhe, tadi lo ke kantor bawa kendaraan ?” Rhea buru – buru mengalihkan pandangannya dari Agha dan menatap Mia yang baru saja bertanya padanya. “mm...? nggak, gue naik angkot tadi...”Mia mengangguk – angguk mendengar jawaban Rhea, gadis itu lalu menyahut “soalnya driver udah gue suruh balik tadi... Jadi kalo lo bawa kendaraan, biarin nginep aja d kantor malem ini... terus lo balik naek apa ntar ? kemaleman kalo mau naik angkot... gue ada jemputan, lo mau ikut ?” Rhea tersenyum, ternyata masih ada orang selain Alin bersikap baik padanya di kantor. Hanya saja mereka berada dalam Tim yang berbeda dan sangat jarang bertemu. “Gampang deh ntar gue minta jemput temen gue...” Jawab Rhea. Mia kembali mengangguk. “Gue ke toilet dulu yaa...” Ujar Rhea lagi seraya bangkit dari tempat duduknya. Gadis itu lalu berjalan mencari kamar kecil yang ternyata berada di luar bangunan kafe. Kamar kecil itu menyatu dengan bangunan kafe namun pintu masuknya berada di luar. Rhea membuka pintu salah satu toilet dan kemudian kembali merasakan dorongan pelan dari belakang yang lagi – lagi membuatnya hampir jatuh terjembab. Dengan kesal Rhea menoleh ke belakang. Agha sudah menutup pintu dan berdiri di hadapannya. What again...?! “Apaa ??” tanya Rhea dengan nada sedikit kesal. Kenapa lelaki ini suka sekali mengikutinya ke toilet...? “u have to answer if somebody ask u out...” Agha akhirnya buka suara. Rhea menatap laki – laki itu tidak percaya. Pria itu sedang membicarakan sms terakhirnya. Lelaki macam apa yang membicarakan masalah cinta di tempat seperti ini ?? “Harus yaa kita ngomongin ini di toilet ?” jawab rhea cepat. “Mau lo kita ngomongin ini sambil candle light dinner di tempat yang romantis ? Yang seperti itu hanya berlaku bagi orang yang saling mencintai. Apa kita saling mencintai ?” Agha berkata seraya tertawa kecil. Rhea mengerutkan kening lalu menggeleng pelan. Jadi apa intinya ??? “Here... Lets make an engagement...”Agha menjulurukan tangannya dan menunjukkan sebuah cincin pada Rhea. Gadis itu terkejut. What is it a proposal ???
***
Agha akhirnya bersedia menjadi kekasih Rhea. Dengan syarat, hanya Agha yang boleh memutuskan hubungan. Hingga rumor gay, yang akhir – akhir ini semakin keras terdengar, menghilang tanpa bekas. Laki-laki itu juga memberikan cincin padanya. Semakin terlihat serius, akan semakin bagus. Rhea setuju tentu saja. Hubungan ini menguntungkan kedua belah pihak. Tapi hanya adil jika Rhea juga mengajukan Syarat. “Deal... in one condition... cuma adil kalo lo bisa buat setidaknya setengah dari para haters gue, jatuh cinta sama lo...”dan tentu saja Agha tidak keberatan dengan itu. Dia berkata akan berusaha melakukan yang terbaik. Cincin hanya akan dikenakan jika license and agreement tersebut sudah terpenuhi. Akan terlihat janggal jika sebuah cincin tiba – tiba saja sudah bertengger cantik di jari manisnya.
Orang – orang mungkin tidak akan pernah tau... Alasan kenapa Agha merubah hair style dan penampilannya akhir – akhir ini. Dia tidak bercanda saat menyetujui permintaan Rhea untuk tebar pesona di kantor... Dan sepertinya hal itu tidak terlalu susah untuknya. Saat dia muncul dengan penampilan barunya, para wanita mulai heboh membicarakannya. Saat dia bersikap seperti lelaki bermanner tanpa mengumbar senyum murahan, setidaknya 3 dari 5 wanita di kantor mulai tertarik dan memperhatikannya. Kemudian saat dia membiarkan para wanita melihatnya tertawa bersama presdir dan staff lainnya di acara pesta ulang tahun presdir sekaligus perayaan atas goalnya proyek acara televisi baru PMagz malam ini, para wanita menarik napas panjang dan menikmati kekaguman mereka dalam diam. Lalu saat akhirnya Agha menyingsingkan lengan kemeja putihnya dan beranjak ke atas panggung di pojokan kafe untuk memainkan piano, maka terjatuhlah para wanita yang ada di dalam ruangan itu dalam pesona seorang Agha. Creep. Dan chopin’s waltz sesuai permintaan sang boss yang merupakan seorang pecinta musik klasik. Setelah menyelesaikan waltz-nya, Agha akhirnya bersuara “is it okay if i play one more song ?” lalu para penonton bersorak mempersilahkannya. Agha melanjutkan “This one is for my...”Kali ini dengan menyertakan senyuman yang begitu manis. Racun. Dia membiarkan kalimatnya menggantung dengan sengaja. Satu senyuman sudah cukup memberi tahu semua orang kepada siapa permainan pianonya itu akan ditujukan. Must be a lover... Seseorang yang istimewa... “I heard women like this song...” sambungnya, lalu mulai memainkan jemarinya di atas tuts piano. A thousand years by christina perry... Yes. Women like this... Dan agha mulai bernyanyi. Melengkapi rentetan pesona yang telah ditebarkannya beberapa hari terakhir. Bahkan Rhea sebagai satu – satunya orang yang tau rencana Agha merasa begitu terhanyut pada musik yang didengarnya malam ini. Namun dengan cepat gadis itu mengumpulkan kembali kesadarannya yang perlahan – lahan menghilang. Tidak lucu kalau dia sampai ikut terlena. Sama artinya dengan terjatuh pada lubang yang dibuatnya sendiri. “well, this aint for me... I I dont have to see it...” Rhea bergumam pelan pada dirinya sendiri, cukup keras untuk dapat didengar oleh Mia yang duduk di dekatnya. Gadis itu tersenyum melihat Rhea yang bangkit dari tempat duduknya dan berlalu begitu saja meninggalkan ruangan yang sedang berada di bawah pengaruh sihir itu. Sementara Agha yang akhirnya menyelesaikan permainan pianonya disambut dengan suara riuh dan tepuk tangan seisi ruangan. Lelaki itu kembali ke tempat duduknya seraya celingukan seolah mencari sesuatu. “Jadi kamu diem – diem punya pacar ? siapa ?” Mr. Jan langsung menginterogasi Agha begitu cowok itu sampai di tempat duduknya. Agha hanya tersenyum. Dia menghabiskan minumannya, lalu mengeluarkan ponsel dan mulai mengetik. “Saya yakin kamu udah punya pacar. Cuma saya nggak yakin tentang gendernya...” Mr. Jan mulai tidak sabar dan mencoba memancing komentar. Agha tertawa. Cowok itu lalu menggeleng “Trust me, im straight, sir...” jawabnya. Tapi Mr. Jan terlihat masih tidak percaya. Agha mulai celingukan lagi. “Eh, itu handphone kamu...” Terdengar suara Mr. Jan lagi. Agha mencari handphonenya di atas meja. Tidak ada. Hingga akhirnya dia menyadari, barang yang dicarinya sudah berada di tangan Mr. Jan yang melotot tidak percaya memandangi layar ponselnya. “ini... Maeve Rhea ???” tanya lelaki setengah botak itu seraya menunjukkan apa yang dilihatnya tadi pada Agha. Layar ponsel Agha dengan foto Rhea sebagai wallpapernya. Ada panggilan masuk yang masih berdering, tertulis My Rhe, tapi Mr. Jan tampaknya enggan memberikan ponsel itu sebelum Agha menjawab pertanyaannya. Agha kembali tersenyum, “I... think.”jawabnya seraya meminta ponselnya dengan sopan dan berlalu pergi begitu saja.

***
Rhea akhirnya kembali kepada style lama yang telah ditinggalkannya kemarin. Celana jins dan kemeja. Tidak ada lagi rok mini, baju ketat berkerah rendah, dan segala atribut fashionista yang digunakannya beberapa minggu terakhir. Hanya saja, Rhea masih mempertahankan hair style dan menggunakan make up ringan nya di waktu kerja. Agha memintanya untuk menyingkirkan semua itu. “Stop dressing like a bitch...” And here she come dressing like the old her... Innocent cutie... Gosip tentang mereka berdua belum tersebar luas di kantor. Meskipun Mr. Jan sudah mulai tersenyum dan bertanya – tanya pada mereka. Indie still has no clue. Gadis itu tersenyum lebih sering daripada sebelumnya sejak malam perayaan. Dan hari ini. Dia kembali tersenyum melihat penampakan Rhea. “Jadi akhirnya lo sadar kalo Agha itu jauh dari jangkauan lo ?” Tawanya pecah setelah menyelesaikan kata – kata itu. Rhea tidak menjawab. Saat jam makan siang tiba, Agha datang menghampiri Rhea dan mengajak gadis itu makan siang bersama dengan manisnya dihadapan para wanita lainnya. Mr. Jan muncul disaat yang tepat dan berkata dengan lantangnya “Nahh, I was right... Jadi lagu itu memang buat Maeve Rhea kan...”. Agha dan Rhea hanya tersenyum. Tidak ada yang buka suara untuk menjawab. Tapi dari senyuman itu, rasanya semua orang sudah tahu jawabannya. Maka dimulailah suara dengungan lebah dari para wanita yang menjadi saksi kejadian itu. They’re mad...
“Are you happy now ?” Agha bertanya pada Rhea setelah mereka sampai di sebuah resto vegetarian, duduk bersama ditemani segelas ice lemon dan tomato juice. “Are you...?”balas Rhea. Agha lalu tersenyum. Lebih mirip cemoohan. “does it hurt ur pride if u answer me first ?” Ujar Agha masih dengan senyumannya. Rhea menatap lelaki itu dengan seksama. Why is he look different ? Apa lelaki ini memang menjadi lebih manis atau ini hanya efek malam perayaan semacam post trauma ? Rhea hanya melontarkan pertanyaannya dalam hati. Gadis itu lalu menyeruput es lemonnya. “Yes, im extremely happy...” Ujarnya lalu. Agha hanya mengangguk – angguk. “can i ask a question ?” lanjut Rhea, “u already ask me a question...” jawab Agha. Rhea mengartikannya dengan go ahead ask ur question. “Why should u care abt my look...?” Agha menatap Rhea dengan serius “I dont like it if my girl looks bitchy...”jawab lelaki itu. Rhea menyipitkan matanya. “Jadi kamu lelaki macem itu juga... Nggak suka kalo pasangannya begitu, tapi suka ngeliat wanita lain berpakaian minim... But we are not that kind of couple... We dont love each other... So why...”,”First, Im definitely not that kind of man...” Agha memotong pembicaraan Rhea. Cowok itu lalu melanjutkan “Second, We r not that kind of couple, its true. I dont like seeing my woman dressing like bitch, and i dont enjoy seeing another girl in a sexy dress either. In another word, i dont like that bicthy kind of woman... Wanita lain berhak memakai apapun yang mereka suka, i dont care... But my woman... how can i not care...?” Rhea tanpa sadar menahan napas mendengar penjelasan Agha. Why ??? Why are men like him hate women like her ? Jadi lelaki charming seperti titan dan agha memang memandang sebelah mata pada gadis – gadis fashionista ? “But We r not in love... You dont love me, I dont love you... then why would you care ? u dont have to take care and protect me...” Rhea bertanya lagi. Dia masih tidak mengerti. Kenapa agha masih repot – repot memikirkan gaya berbusananya... “Im protecting my pride... I have dignity. I dont date bitch...” Agha menjawab singkat. Rhea kembali terhenyak. Itu artinya, di mata seorang Agha, Rhea memang wanita semacam itu ? Apa penampilannya segitu murahan dan tidak terhormat ? Tidak pantas untuk seorang Agha ? Jadi hal seperti itu juga yang ada dalam pikiran seorang titan dulu ? Serendah itukah Rhea ? “Aku pikir semua cowok pasti bangga punya pacar yang cantik, glamorous, and sexy...” Rhea kembali menyahut. Mencoba mempertahankan sisa – sisa martabatnya yang baru saja hancur berantakan karena kata – kata Agha. Lelaki itu hanya tersenyum. Kembali mencemooh. “Whatever, man... Not me...”sahutnya pendek. Dan habislah sudah argumen tentang hal ini. This man... Sepertinya memang tidak butuh wanita cantik untuk membuatnya terlihat hebat. Sebaliknya, dengan ajaib membuat wanita merasa terhormat berada di sisinya. He’s just that great...

The Most Incredible Woman Around Me...?


She's a mother...
Who always cries at four o'clock in the morning... Thinking about her daughters...
Kata orang, cara anak - anakmu memperlakukanmu adalah cerminan perlakuanmu pada orang tuamu di masa lalu. Karena itu dia mulai berpikir... Dosa apa yang telah dilakukannya dahulu ? Hingga anak - anaknya menjadi begini menyebalkan ? Susah menurut, bersikap acuh tak acuh seolah tidak pernah mendengar apapun yang dikatakannya... Seingatnya, dia sudah melakukan semua yang dia bisa untuk orang tuanya. Membantu mencari uang sejak masih kecil, mengurus adik - adiknya, mengerjakan pekerjaan rumah... Lalu, apa yang salah...??

Senyuman bahkan sudah jarang terbit di wajahnya yang dulu begitu cerah dan bercahaya. 
Sejak kehilangan suami tercinta, kehidupan tidak pernah sama lagi. Memikirkan masa tua, dulu tidak pernah seberat ini. Apakah berharap untuk menjalani hidup dengan damai di saat senja seraya menikmati bakti anak - anaknya yang berhasil sukses dan mandiri terlalu berlebihan ? Di usia yang telah lebih setengah abad begini, dia tetap harus bekerja begitu keras untuk menghidupi anak - anaknya yang masih menggantungkan seluruh hidup mereka padanya...

Dia meletakkan impian tertingginya pada anak - anaknya...
Mereka harus mendapat pendidikan yang lebih tinggi darinya, hidup sukses, dan berguna bagi sesama manusia. Tapi sekarang... Apakah dia harus menghapus impian itu dari hati dan pikirannya secara perlahan - lahan ? Anak - anaknya bahkan seperti tidak peduli pada hidup mereka sendiri... Jika nanti dia harus pergi menghadap Tuhan... Apa yang akan terjadi pada anak - anaknya ? Meski pikiran untuk dapat kembali bertemu dengan sang suami tercinta di tempat yang lebih baik begitu indah dan begitu dirindukannya, dia tetap harus bertahan ! Demi kedua putrinya...  

She's a mother...
Who never had missed a single day, praying to God, for the sake of her daughters... She's a supergreat mother...
She's MY MOTHER...







NB : Jika ada kesalahan dalam berbahasa, baik inggris ataupun indonesia, mohon dimaafkan...


#PeopleAroundUs | Day 14
 
Copyright (c) 2010 A Girl Like Me and Powered by Blogger.